Sampul cerita Piko dan Jambul Matahari

Piko dan Jambul Matahari

Petualangan kakatua jambul kuning yang penuh rasa ingin tahu, suara ceria, dan pelajaran tentang menjaga rumah satwa liar

Usia 6–10 tahun · 7 menit · 25 adegan

Pagi berwarna madu

Piko, kakatua kecil jambul kuning, mengintip dari balik daun di hutan pulau Nusa Tenggara saat pagi.

Pagi menyapu pulau dengan warna madu. Piko si kakatua kecil jambul kuning mengintip dari balik daun, lalu—hop!—jambulnya berdiri seperti matahari mini.

Jambul yang bercerita

Piko mengangkat jambul kuningnya dengan mata berbinar ketika mendengar suara dari kejauhan.

Saat penasaran, jambul Piko terangkat tinggi. Saat santai, jambulnya rebah lagi. Hari ini, jambul itu tegak—ada teman yang memanggil!

Halo dari balik pohon

Piko berseru dari dahan pohon dan kakatua lain menyahut dari balik dedaunan.

“Halo, siapa di sana?” Piko berseru. Dari pohon sebelah terdengar jawaban. Ia tertawa kecil—eh, kakatua tertawa dengan suara seperti apa, ya?

Sayap kecil, langit luas

Piko mengepak terbang melewati pepohonan dan padang savana hijau keemasan di pulau.

Piko mengepak cepat melewati tajuk. Di bawahnya, hutan hijau bertemu padang rumput keemasan. Angin menggelitik bulunya—terbang memang seru!

Sarapan renyah

Piko mematuk biji dan buah kecil di cabang pohon sambil menyeimbangkan tubuh dengan kaki.

Krruk! Piko menemukan biji dan buah kecil. Paruh kuatnya membantu mengambil makanan, sementara kaki-kakinya mencengkeram dahan dengan mantap.

Buah menempel di paruh

Potongan buah menempel di ujung paruh Piko dan ia memiringkan kepala dengan lucu.

Ups! Sedikit buah menempel di paruh Piko. Ia menggeleng ke kiri, ke kanan, lalu berhasil—dan satu remah kecil jatuh tepat di hidungnya!

Teguk dari daun

Piko meminum tetes air hujan yang mengumpul di daun lebar setelah terbang.

Sehabis terbang, Piko meneguk air hujan yang tertampung di daun lebar. Segar sekali! Ia mengibas bulu, membuat titik air berkilau di udara.

Teman-teman berdatangan

Beberapa kakatua jambul kuning berkumpul di dahan rindang dan saling menyapa.

Tak lama, teman-teman Piko datang. Mereka bertengger berdekatan, saling menyapa, lalu bersama-sama mencari pohon berbuah.

Pohon tua yang teduh

Piko menemukan pohon besar tua dengan rongga alami pada batangnya.

Di tengah perjalanan, Piko melihat pohon tua dengan lubang alami. “Wah, rumah siapa ini?” tanyanya sambil mengintip dari dahan aman.

Rumah di dalam batang

Rongga pohon tua tampak sebagai tempat berlindung alami bagi burung di hutan pulau.

Rongga pada pohon besar dapat menjadi tempat bersarang bagi burung. Pohon seperti ini tumbuh lama, jadi penting untuk tetap menjaganya.

Suara kecil dari sarang

Piko mendengar cicit anak burung dari rongga pohon dan tersenyum penasaran dari dahan.

Cuit-cuit terdengar dari dalam rongga. Piko tersenyum. Ada anak burung yang sedang tumbuh bersama induknya, terlindung di rumah pohon.

Hutan memberi banyak

Piko melihat buah, bunga, biji, dan pohon tinggi yang menjadi bagian dari habitatnya.

Hutan memberi Piko makanan, tempat beristirahat, dan ruang untuk terbang. Setiap pohon punya cerita—dan banyak makhluk bergantung padanya.

Panggilan yang dicari

Piko memanggil kawanannya dari pohon tinggi ketika kabut tipis menyelimuti pulau.

Kabut tipis datang. Piko tak melihat kawanan di dekatnya, jadi ia memanggil. Beberapa saat kemudian, suara sahutan terdengar dari balik bukit.

Bulu yang rapi

Piko merapikan bulunya dengan paruh di atas dahan yang teduh.

Setelah berkumpul lagi, Piko merapikan bulunya dengan paruh. Ia menyisir pelan, lalu menggoyang jambulnya seperti sedang berdandan untuk pesta daun.

Pulau yang perlu dijaga

Dari atas, Piko melihat hutan, semak, dan padang rumput yang membentuk rumah satwa di pulau.

Dari atas, Piko melihat hutan dan semak yang tersambung. Kalau tempat hidup terpecah, mencari makan dan tempat aman jadi lebih sulit.

Jangan bawa pulang

Seorang ranger menunjukkan gambar kakatua kepada anak-anak dari jalur aman sementara Piko bebas di dahan.

Seorang ranger bercerita kepada anak-anak: kakatua adalah satwa liar. Rumah terbaiknya tetap alam, bukan sangkar di rumah.

Mengamati dengan tenang

Anak-anak mengamati Piko dari kejauhan bersama ranger tanpa memberi makan atau menyentuhnya.

Anak-anak mengamati dari jalur aman. Mereka tidak mengejar, menyentuh, atau memberi makan Piko—cukup melihat dan menyimpan kagum.

Pohon tetap berdiri

Petugas menjaga pohon tua dan memberi tanda perlindungan pada area habitat burung.

Ranger dan warga menjaga pohon-pohon tua. Dengan habitat yang terawat, Piko dan teman-temannya punya lebih banyak ruang untuk hidup.

Tempat sunyi yang aman

Piko beristirahat di cabang tinggi ketika matahari siang bersinar di atas pulau.

Saat matahari tinggi, Piko beristirahat di cabang teduh. Jambulnya turun, matanya sayu, dan ekornya bergoyang mengikuti angin.

Langit sore memanggil

Cahaya senja mewarnai hutan pulau ketika Piko bersiap kembali ke pohon istirahat.

Sore mulai jingga. Piko bangun, merentangkan sayap, lalu mengajak kawanan kembali ke pohon tempat mereka biasa beristirahat.

Sahutan senja

Piko dan kakatua lain saling berseru di antara siluet pohon saat senja.

“Sudah lengkap?” Piko memanggil. Satu, dua, tiga sahutan terdengar. Kawanan siap pulang bersama sebelum langit gelap.

Terbang beriringan

Kawanan kakatua terbang bersama melintasi bukit dan pepohonan pulau saat senja.

Mereka terbang beriringan, putih dan kuning melintas di langit. Piko berada dekat teman-temannya, merasa aman dalam kawanan.

Bintang pertama

Piko bertengger di dahan tinggi di bawah langit malam awal dengan satu bintang muncul.

Di pohon istirahat, Piko bertengger rapat dengan kawanan. Satu bintang muncul, dan jambulnya mengembang sebentar—wow, cantik sekali!

Janji kecil untuk alam

Anak-anak melihat hutan dari pos ranger dan berjanji menjaga satwa liar tetap di habitatnya.

Anak-anak berjanji membantu: tidak membeli satwa liar, menjaga hutan, dan bercerita kepada teman bahwa kakatua harus hidup bebas.

Selamat malam, Piko

Piko menutup mata dengan nyaman di dahan pohon sementara hutan pulau tampak damai di bawah bulan.

Piko memejamkan mata. Besok ada buah baru, angin baru, dan teman-teman untuk disapa. “Selamat malam, rumahku,” bisiknya dalam hati.

Pesan dan fakta cerita

Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) hidup di wilayah Wallacea, termasuk beberapa pulau Nusa Tenggara dan Sulawesi. Burung paruh bengkok membutuhkan pepohonan untuk mencari makan dan bersarang. Penangkapan untuk perdagangan burung peliharaan serta berkurangnya habitat mengancam populasinya. Kakatua adalah satwa liar yang sebaiknya diamati dari jarak aman di habitatnya.

Sumber: BirdLife International — Yellow-crested Cockatoo dan habitat Wallacea · WWF Indonesia — Kabar baik dari Taman Nasional Komodo

Jelajahi cerita lainnya