
Beni dan Hidung Hebat
Petualangan bekantan Kalimantan yang suka bergaya, berloncatan, dan belajar menjaga rumahnya di tepi sungai.
Usia 6–10 tahun · 6 menit · 20 adegan
Pagi di tepi sungai

Di tepi sungai Kalimantan, Beni menguap lebar. Hidung panjangnya ikut bergoyang. “Sudah rapi belum?” tanyanya pada daun.
Hidung yang menari

Hidung Beni panjang dan lembut. Saat ia menoleh, hidungnya ikut terlambat sedikit. Beni cekikikan, “Aduh, kompak dong!”
Honk dari kejauhan

Dari balik pepohonan terdengar, “Honk, honk!” Beni menegakkan hidungnya. “Teman-teman sudah bangun!”
Pucuk paling segar

Beni memilih pucuk daun yang segar. Ia menggigitnya kecil-kecil, lalu mengangguk puas seperti juri lomba sarapan.
Perut yang kenyang

Daun, buah, dan biji menjadi makanan bekantan. Setelah sarapan, perut Beni terasa penuh. Ia menepuknya pelan, “Terima kasih, sarapan!”
Rombongan kecil

Beni menyusul kelompoknya. Mereka duduk berjauhan di dahan, tetapi tetap saling melihat. Beni melambaikan tangan, “Aku datang!”
Si kecil mengintip

Seekor anak bekantan mengintip malu-malu dari balik induknya. Beni tersenyum lembut. Ia tahu, yang kecil perlu ruang untuk merasa aman.
Air berkilau

Sungai berkilau di bawah dahan. Beni menunduk melihat air. “Hari ini aku latihan berenang. Pelan-pelan saja, ya!”
Jari-jari berselaput

Jari tangan dan kaki Beni punya selaput sebagian. Bentuk itu membantunya mengayuh saat berenang. Beni menguji air dengan satu jari dulu.
Byur kecil

Beni melompat, byur! Percikannya membasahi pipi sendiri. Ia tertawa, lalu berenang menuju tepian yang aman.
Handuk dari angin

Di dahan aman, Beni mengibas bulunya. Angin membantu mengeringkan rambutnya yang jingga. “Nah, gaya lagi!”
Hidung untuk bersuara

Hidung jantan bekantan bisa sangat besar. Para peneliti menduga, hidung itu membantu panggilannya terdengar lebih kuat.
Honk penuh percaya diri

Beni menarik napas, lalu berseru, “Honk!” Ia tersenyum bangga. Suaranya menyapa kelompok di tepi sungai.
Hidung berbeda-beda

Bekantan betina biasanya berhidung lebih pendek. Beni menyapa dari dahan seberang. Setiap bekantan punya wajah khasnya sendiri.
Teduh sore

Saat sore, kelompok Beni memilih dahan untuk beristirahat. Mereka dekat sungai, tetapi tetap memberi jarak nyaman satu sama lain.
Rumah di tepi air

Hutan tepi sungai dan mangrove adalah bagian penting rumah bekantan. Di sana ada pepohonan untuk bergerak dan mencari makanan.
Jangan biarkan rumah menyempit

Jika hutan tepi sungai terpotong, bekantan kehilangan jalur dan tempat mencari makan. Beni berharap pepohonan tetap tersambung.
Melihat dari jauh

Seorang pemandu mengajak anak-anak mengamati dari perahu. Mereka berbisik pelan dan tidak memberi makan Beni.
Satu bibit kecil

Warga menanam bibit mangrove di tepi sungai. Beni melihat dari kejauhan. Pohon muda hari ini bisa menjadi rumah kelak.
Selamat malam, Beni

Dari dahan sebelah terdengar honk pelan. Beni meringkuk dan memejamkan mata. “Sampai besok, sungai kesayangan!”
Pesan dan fakta cerita
Bekantan (Nasalis larvatus) adalah primata endemik Kalimantan yang hidup dekat sungai, termasuk di hutan mangrove dan rawa. Makanannya antara lain daun, buah, dan biji. Bekantan hidup berkelompok, banyak beraktivitas di pepohonan, dan dapat berenang. Jari tangan serta kakinya memiliki selaput sebagian yang membantu saat berenang. Hidung jantan yang besar mungkin membantu menarik perhatian dan membuat panggilannya terdengar lebih kuat. Hutan tepi sungai yang terjaga menyediakan tempat makan, tidur, dan bergerak.
Sumber: WWF Indonesia: Bekantan · National Geographic — Proboscis Monkey